Jumat, 02 Juli 2010

Antara L-H-I dan Father's Day

Beberapa minggu yang lalu, tepatnya tanggal 20 Juni 2010,  teman-teman facebook saya banyak yang memasang status tentang ayah. Saya baru tau kalau hari itu adalah peringatan Father’s Day.  Dan hari itu mengingatkan saya pada dua orang teman yang secara tidak sengaja membentuk ‘perilaku’ saya yang tidak berperasaan pada seorang teman saya yang lain.

Sejak awal saya penempatan di Pekanbaru, saya menyewa sebuah rumah bersama dengan beberapa orang teman yang salah satunya sudah tidak mempunyai ayah lagi. Kita sebut saja tokoh kita itu dengan L yang Ayahnya meninggal saat dia SMA. Beberapa kali meninggalnya sang ayah itu sempat menjadi topik obrolan kami. Dan walaupun terasa ada kesedihan dalam nada suara maupun gestur tubuhnya, tapi kadang kala dia malah becanda tentang hal itu. Dengan santai dia bisa berkata “ya aku kan dah gak punya bapak lagi, gak ada yang ngasih uang jajan beda dengan kalian” atau kalimat-kalimat sejenis.

Beberapa tahun kemudian, teman kos kami yang satu lagi juga kehilangan ayahnya. Yang ini kita sebut saja H, yang pada saat hari meninggalnya sang ayah tampak sangat terpukul. Teman saya yang lebih senior  bercerita, si H menangis dan berkata “aku nggak punya bapak lagi, Pak”

Kami semua tentu saja turut berduka cita. Tapi hidup terus berjalan, dan hari berganti dengan cepat. Beberapa bulan pun berlalu. Dan tiba-tiba saja kamimenyadari ada sebuah hubungan khusus antara L dengan H saat membahas sesuatu yang berhubungan dengan ayah. Mungkin bisa disebut semacam perasaan saling mengerti dan memahami akan kehilangan orang yang tersayang.

Tapi hubungan itu kadang mereka tunjukkan dengan cara yang terlalu ‘to the point’ dan terkesan saling mengejek. Kami pun berpikir mungkin kesamaan nasib lah yang membuat mereka bisa berbicara tentang ayah mereka yang telah tiada dengan tanpa tedeng aling-aling seperti itu. Dan entah bagaimana, kami pun tak jarang terseret masuk dalam kesamaan rasa itu dan ikut tertawa saat slah seorang mengejek yang lain. Atau malah menambahi dengan kata-kata yang lebih seru dan kami akan tertawa lebih keras. Sama sekali tak ada sakit hati karena sebentar kemudian akan kami lupakan untuk keesokan harinya kami ulangi lagi dengan tawa yang lebih keras.

Sekian tahun saya tinggal seatap dengan mereka dan kejadian tersebut terus berulang sepanjang tahun. Dan seperti saya bilang di awal cerita, hari-hari yang saya lalui dengan mereka itu kemudian membentuk alam bawah sadar saya secara tidak sengaja. Dan suatu kali saya sadar kalau saya telah menyakiti hati seorang teman saya yang satu lagi, seorang anak gadis yang juga sudah ditinggal pergi ayahnya.

Suatu kali saat sedang berkumpul bersama teman yang lain, dengan maksud becanda saya berkata “ah kamu kan udah nggak punya bapak” Enteng saja saya mengatakan hal itu dan tak sempat memperhatikan reaksinya karena kami semua tertawa.

Setelah beberapa saat kemudian saya tersadar. Dia mungkin tidak menunjukkan reaksi yang menyedihkan atau pun marah. Tapi saya yakin perasaan itu ada, dan saya lah yang memicunya. Ayahnya meninggal dalam suatu bencana. Dan saya menjadikan kehilangan itu sebagai bahan becandaan. Sungguh bukan hal yang patut dilakukan. Tapi entah mengapa saya tidak pernah meminta maaf kepadanya. Mungkin karena sikapnya kepada saya yang tetap seperti biasa. Berteman dengan biasa dan tetap becanda dengan biasa. Entahlah.

Dan membaca status teman-teman facebook saya beberapa minggu yang lalu itu mengingatkan saya kepadanya. Mungkin dia sudah lupa apa yang saya ucapkan, atau mungkin saja tidak. Saya ingin meminta maaf tapi tidak tau cara meyampaikannya. Saya tidak akan mencari pembenaran dengan cerita  tentang L dan H yang menjadikan status mereka yang anak yatim sebagai bahan guyonan. Karena bagaimana pun kehilangan orang tercinta tidak seharusnya ditertawakan.

Ah.  Saya menyesal sekali pernah becanda tentang ayahnya.

Maafkan saya, I.

Kamis, 01 Juli 2010

Lebih Murah dan Lebih Mudah Didapat

Susu Hikari sekarang udah 'naek kelas' ke Nestle NAN 3. Ternyata dia memang tipe setia yang nggak gampang berpaling dari susunya. Awal-awal dulu, pernah kami coba ganti dengan susu lain yang harganya setara, tapi Hikari nggak mau. Pernah juga coba dikasih susu yang terbuat dari kedelai, karena membaca di beberapa forum katanya kandungan susu kedelai lebih baik daripada susu sapi. Tapi lagi-lagi Hikari menolak. Ya sudah lah.. kecil-kecil udah ngerti merk.

Saat usianya hampir 1 tahun, saya sempat berpikir-pikir untuk mengganti susunya karena berpikir pasti semakin besar akan semakin banyak minum susunya. Lagipula saat itu Nestle NAN 2 sangat susah didapat. Hanya di toko-toko tertentu saja yang menjual, itu pun tak selalu ada. Di swalayan besar sekelas hypermart dan makro pun sering tak tersedia. Jika misalnya hari ini beli di toko A, seminggu kemudian belum tentu di toko itu tersedia stoknya. Jadi setiap kehabisan stok, harus muter-muter keliling Pekanbaru untuk cari NAN 2. Dan kadangkala malah dapetnya di tempat yang tak terduga.

Belajar dari pengalaman kesulitan saat mencari NAN 2 itu lah kami berpikir untuk mengganti susunya. Suatu kali saat berbelanja ke Giant dan lewat di bagian susu bayi, Hikari menjangkau-jangkau susu Dancow Batita yang sepertinya adalah produk baru dari Nestle untuk anak usia 1 tahun ke atas. Dan saya menganggapnya sebagai semacam 'pertanda' bahwa Hikari mau minum susu itu. Dan lagi, setiap kali mendengar nyanyian di iklan Dancow Batita, Hikari akan bereaksi dengan menggerak-gerakkan tangan dan badannya seperti orang menari. Tak lupa dengan ekspresinya yang penuh senyuman. Dan saya semakin yakin kalau dia memang 'berjodoh' dengan susu ini.

Dan ketika usianya menginjak 1 tahun, saya langsung membeli Dancow Batita untuknya. Tapi ternyata 'pertanda' yang diberikan Hikari adalah palsu. Haha. Atau saya yang sudah gila sehingga terlalu mengada-ada dan menghubung-hubungkan perilakunya karena kepengen mengganti susunya dengan yang lebih murah. Dia langsung menolak pada kesempatan pertama. Dancow batita gagal menggantikan NAN 3, padahal sama-sama produk Nestle. Untung belinya yang kemasan paling kecil, jadi nggak terlalu banyak yang terbuang. Dan begitulah.

Baiklah Nak. Asal kamu sehat dan rajin minum susu, merk apa pun akan Abi belikan. Doakan Abi tak pernah terlambat absen pagi ya...

Senangnya, harga NAN 3 ternyata sedikit lebih murah daripada NAN 2. Alhamdulillah. Walaupun selisih harganya tak sampai 20 ribu, tapi senangnya bukan main. Dikalikan sekian kaleng kan lumayan juga tuh. Dan yang menyenangkan lagi, NAN 3 tersedia di banyak tempat. Tidak seperti seri sebelumnya yang seperti barang langka. Di kemasannya dicantumkan ini untuk usia 1 - 3 tahun. Mudah-mudahan sampai 2 tahun ke depan susu ini tetap mudah didapat dan Kami terus diberi rezeki untuk membelinya. Amin.