Senin, 19 September 2016

Pulang Idul Adha 1437H, Surprise untuk Mbah

Awalnya kami tidak merencanakan untuk pulang di liburan Idul Adha tahun ini. Pertimbangan utamanya karena sekolah Hikari dan Hoshi. Walaupun masih SD, tapi rasanya kok nggak enak kalau mereka harus izin seminggu untuk pulang ke Lampung. Pertimbangan lain karena tahun ini saya sudah mengambil lumayan banyak jatah cuti tahunan untuk keperluan pindahan ke Wonosari dan pada saat Idul Fitri.

Sudah bilang juga ke mbahnya anak-anak bahwa kami tidak akan pulang idul adha. Mbah malah bilang kalau mbah aja nanti yang ke Wonosari bulan oktober.

Tapi kemudian menjelang Idul Adha ada surat pemberitahuan dari sekolah tentang liburan dalam rangka hari tasyrik, tanggal 13-15 September 2016 (hari selasa, rabu, kamis). Trus Ummiyo spontan bilang "Wah liburan kemana kita nih, ke rumah mbah yuk..."

Dan Hikari Hoshi langsung antusias menyetujui. Tau sendiri lah gimana mereka kalau suatu rencana sudah terlanjur disebut-sebut. Sibuklah mendesak-desak untuk pulang ke lampung. Masing-masing bahkan sudah punya agenda spesial. Hikari mau ke Al-Karim ketemu ummi guru dan teman-teman, terutama Dea. Sementar Hoshi nggak mau kalah mau ke rumah Galuh, soulmatenya.

Akhirnya setelah berpikir panjang, diputuskan untuk pulang aja. Naik bus saja, karena kalo cari tiket pesawat mendadak gini kemungkinan besar nggak akan dapat harga yang terjangkau. Tadinya sih Ummiyo mikir dia dan anak-anak aja yang pulang, sementara saya tinggal di Wonosari. Ngomongnya sambil khawatir pulak "Kalo Hime aja yg pergi sama anak-anak gimana, Re tinggal sendirian nggak pa-pa?" Aih sayang banget ya sama suaminya...

Ya nggak masalah sih... Tapi gimana caranya nanti dia ngurusin anak-anak pas di dalam kapal? Karena repotnya perjalanan darat ke Lampung atau sebaliknya itu adalah pada saat penyeberangan. Karena penumpang bus diharuskan turun dari bus dan pindah ke dek atas, tidak boleh di dalam bus untuk menghindari resiko kebakaran. Dan repot banget bawa 2 anak tambah 1 bayi pindah-pindah gitu.

Pertama, karena sering kali pas masuk ke dalam kapal itu anak-anak sedang nyenyak tertidur. Kalau dibangunkan tiba-tiba, nggak jarang mood mereka itu masih jelek karena kaget. Hikari masih mending. Nah kalau Hoshi, moodnya sedang nggak bagus.. repotnya bisa berkali-kali lipat. Dan kedua, untung-untungan banget soal kualitas kapalnya. Kalau pas dapat kapal yang bagus dan nyaman ya rejeki anak sholeh banget. Apalagi kalau ada ruangan khusus untuk lesehan yang bersih dan sejuk. Tapi Kalau pas dapat kapal yang kurang bagus.. yang adanya cuma kursi-kursi yang nggak nyaman untuk diduduki, ya sudah lah pasrah.

Makanya nggak mungkin banget rasanya Ummiyo pergi berempat saja dengan anak-anak. Dan akhirnya diputuskan saya akan ikut pulang untuk mengantar mereka. Tapi nggak cuti, jadi nanti pas sampai di sana langsung pulang lagi ke Wonosari.

Jumat pagi baru diputuskan untuk berangkat hari sabtu tanggal 10 September 2016. Jumat jam 13.00 baru pergi cari tiket di agen Rosalia Indah yang di Simpang Selang, dekat rumah Baleharjo. Alhamdulillah masih dapat bangku berurutan untuk 4 orang walaupun agak belakang, nomor 7. Harga tiket @Rp375.000 Executive Class berangkat dari Wonosari pukul 13.30 WIB. Dapat kupon makan yang ditempel di bagian depan tiketnya.


Setelah berkemas seperlunya, hari sabtu minta tolong mas Eko, driver kantor, untuk mengantar ke Simpang Selang kemudian mobil diparkir di kantor. Bus belum datang pada waktu kami sampai di agen. Sempat beli bakpia dulu untuk oleh-oleh. Harganya lumayan murah, dan rasanya juga enak.

Lewat sedikit dari jam setengah dua, bus datang. Ternyata ini cuma bus sementara untuk sampai ke Jogja saja. Jadi bukan bus yang nantinya akan ke Lampung. Kami dibawa ke pool Rosalia Indah yang ada di Ringroad Selatan, seberang hotel Ros-In. Di sini turun untuk ganti bus. Dan ternyata harus menunggu lama karena berdasarkan keterangan dari pegawai di bagian penjualan tiket, busnya masih di Klaten.

Ruang tunggunya sih sebenarnya lumayan, ber-AC. Sayang sekali penataan ruangannya menyatu dengan toilet. Dan toiletnya kurang terawat dengan baik sehingga aroma tidak sedapnya masuk ke dalam ruang tunggu. Hoshi yang sudah terlanjur tertidur di dalam bus yang dari Wonosari sempat jelek mooodnya dan tak mau masuk ke dalam ruang tunggu.

Setelah menunggu selama lebih dari 2 jam, menjelang jam 5 sore busnya pun datang. Rosalia Indah dengan nomor lambung 429. Alhamdulillah busnya bagus. Bersih dan sejuk. Penumpang tidak terlalu penuh. Masih banyak bangku yang kosong. Kami duduk di 7 ABCD. Hikari Hoshi sih udah biasa naik bus jarak jauh. Hiro nih yang baru pertama kali. Agak deg-degan juga sih. Tapi kan dia udah pernah jalan jauh juga pas waktu pindahan ke Wonosari dulu itu. Jadi kekhawatiran kami nggak terlalu sih. Cuma deg-degan dikit aja.

Bus melaju mulus. Jalanan juga nggak terlalu padat. Dan alhamdulillah Hiro anteng-anteng saja. Senyum-senyum, sesekali bercanda dengan kakak dan mbaknya, mimik, pindah-pindah gendong abiyo ke ummiyo ke abiyo, mimik lagi dan kemudian tertidur. Saya pun ikut tertidur tak lama kemudian.

Menjelang jam 9 malam, bus berhenti untuk makan. Kalo nggak salah di daerah Karanganyar gitu deh. Nggak perhatiin detail soalnya sibuk ngurusin Hikari Hoshi yang males-malesan karena dibangunkan pas sedang enak tidur. Ternyata berhenti untuk makan.

Makan gratis. Pakai kupon makan yang ada di dalam tiketnya. Menunya nasi, ayam goreng, sayur dan sambal. Disajikan prasmanan dengan tambahan pengumuman AMBIL SATU SAJA (maksudnya ayam gorengnya kali ya). Rasanya yaa gitu deh. Hikari dan Hoshi nggak makan. Jatah makannya boleh take away. Dikemas pake kotak kertas sederhana gitu. Setelah selesai makan dan sholat, bus berangkat lagi. Penumpang nggak terlalu banyak, cuma separuh dari kapasitas bangku yang terisi. Baris nomor 6 kosong, jadi saya pindah ke depan supaya Ummiyo dan Hiro bisa agak leluasa ruang geraknya.

Jam 4 pagi Ummiyo membangunkan saya. Hoshi ngompol. Aduh. Memang pas berhenti makan tadi dia nggak pipis sih, katanya nggak pengen pipis. Dan akhirnya sekarang malah ngompol. Bajunya basah. Kursinya juga basah. Untung di dalam tas yang dibawa ke kabin memang sedia baju bersih, jadi bisa langsung tukar pakaian. Dan untung juga banyak kursi yang kosong, jadi Hoshi bisa pindah duduk ke kursi di depannya dan lanjut tidur lagi.

Bus berhenti lagi di Bitung sekitar pukul 7 pagi. Awak bus ngasih pengumuman kalo istirahatnya agak lama soalnya bus mau sekalian dibersihkan. Jadi penumpang bisa makan dan mandi kalo yang mau. Hikari Hoshi bangun dengan mood yang bagus. Mungkin karena sudah puas tidur sepanjang malam. Hiro juga sumringah wajahnya walaupun keliatan ngantuk. Ummiyo nampak kelelahan. Mungkin karena tidak nyenyak tidur harus menyusui di dalam bus.


Di sini ternyata dapat jatah makan gratis lagi. Berarti dapat makannya 2 kali. Ternyata selain kupon makan yang ditempel di bagian depan tiket itu, ada satu lagi kupon makan yang letaknya di dalam tiket itu sendiri. Seru juga nih dapat makan lagi. Padahal yang jatah tadi malam aja belum dimakan.

Kali ini menunya lebih layak daripada tadi malam. Walaupun cuma telur balado tapi rasanya jauh lebih oke. Ada semur tahu dan sayur kembang kol. Teh manisnya juga terasa gulanya. Hikari Hoshi lagi-lagi nggak mau makan. Katanya kenyang. Tapi mau juga disuapin ummiyo beberapa sendok. Jatah mereka berdua dikotakin lagi.

Seperti yang saya bilang di awal tadi, kesan pada saat pulang ke Lampung dan sebaliknya kalau jalan darat itu tergantung kapalnya. Kalau kapalnya bagus dan nyaman ya perjalanan jadi kerasa enak dan sebaliknya. Dan alhamdulillah pas dapat kapal yang enak. Sekitar jam setengah 9 pagi kami sudah ada di atas kapal. Namanya RAJA RAKATA. Ada ruang lesehan yang sejuk dan bersih. Karpetnya juga lumayan empuk.

Dan pagi itu penumpang sedikit. Hikari Hoshi leluasa lari-larian di dalam ruangan sambil main dengan Hiro. Nasi kotak yang dari Bitung dimakan di atas kapal. Hoshi mau makan, Hikari juga. Saya berbaring saja memperhatikan mereka. Cuaca juga bersahabat. Angin bertiup pelan. Nyaris tak terasa goyangan karena ombak. Beberapa kali Hikari Hoshi minta ditemani keluar melihat laut dari tepi lambung yang berpagar. Alhamdulillah.

Kami turun di depan rumah mbah tepat pada tengah hari. Mbahnya kaget karena kami memang sengaja tidak mengabari kalau pulang.

Jadi bisa dibilang perjalanan kali ini lumayan nyaman. Busnya enak. Drivernya juga santai nggak ugal-ugalan. Dan yang terpenting nggak merokok. Nggak seperti (beberapa) driver bus lintas sumatera yang asik merokok sepanjang perjalanan. Trus poin lebihnya lagi, awak busnya mau goda-godain Hiro. Mau berusaha coba menggendong juga, walaupun Hironya cuma mau digendong sebentar aja.

Sabtu, 27 Februari 2016

Taman Kupu-Kupu Gita Persada Bandar Lampung

Hikari dan Hoshi sangat menyukai capung dan kupu-kupu. Jika sedang berada di rumah mbahnya di Kalianda, kerjanya setiap hari mengejar-ngejar capung dan kupu-kupu yang memang masih banyak beterbangan. Tak jarang pula mengumpulkan ulat-ulat yang berada di gulungan daun pisang.

Jumlah spesies kupu-kupu sangat banyak dan jumlah yang sudah dideskripsikan juga masih berupa perkiraan karena masing-masing ahli mempunyai data yang berbeda. Ada ratusan ribu spesies. Pokoknya banyak banget deh.  :D

Negara kita ini dianugerahi keragaman kupu-kupu yang berlimpah dengan tingkat endemik yang jauh melebihi penyebaran di wilayah dunia yang lain. Ada sekitar 1600 jenis kupu-kupu di seluruh Indonesia, dan jumlah tersebut lagi-lagi hanyalah perkiraan sementara.

Di Bandar Lampung ternyata ada tempat penangkaran kupu-kupu, namanya Taman Kupu-Kupu Gita Persada. Dari akun instagram @explorelampung lah awalnya kami mengetahui tentang tempat wisata edukasi ini. Dan setelah dicari-cari, lokasinya tak jauh dari rumah. Masih berada di wilayah kecamatan Kemiling. Tepatnya di Jalan Way Rahman, Kelurahan Sumber Agung.

Kalau lihat di googlemap sih lokasinya memang dekat dari rumah. Perkiraan waktu tempuhnya hanya sekitar 7 menit untuk sampai ke lokasi. Baiklah, diputuskan hari sabtu (27/02) ajak anak-anak ke sana. Ummiyo kemudian woro-woro di grup watsapnya. Dan bunda Zahra tertarik juga pergi bersama.

Hari sabtu, jam 9 pagi, Zahra sudah sampai di rumah. Karena kami pun memang sudah siap untuk pergi, ya langsung deh berangkat. Kami di depan, Zahra mengikuti di belakang. Nggak bawa banyak barang dan makanan. Cuma minuman dan camilan secukupnya. Zahra sih katanya bawa mi goreng dan nasi sisa sarapan yang tidak dihabiskan. Di perjalanan singgah sebentar di warung untuk beli lotion anti nyamuk. Siapa tau kan, namanya di kebun,  nyamuknya banyak.

peta yang nampaknya gimpil
Berbekal peta di googlemap dan gps di android, saya dengan pedenya berkata "tauu.. gampang kok jalannya"ketika Ummiyo bertanya apakah saya sudah tau persis lokasinya. Dan nampaknya memang gimpil. Tinggal ikuti saja jalan Cik Di Tiro, belok kanan, ikuti jalan.. sampe deh. Begitu pikir saya.

Tapi saya langsung menjadi korban kesombongan saya sendiri. Gps ternyata tidak bisa mengunci lokasi dengan tepat, padahal sinyal kelihatannya baik-baik saja. Bar terisi penuh warna hijau dengan huruf H di sebelahnya. Tapi entah kenapa begitu sampai di depan SLB, gps-nya langsung ngaco. :(

Untung segera berbalik arah sebalum nyasar terlalu jauh. Ummiyo menelepon Bunda Rafa yang sudah pernah ke sana sementara saya mengamati google map dengan lebih seksama. Ternyata kami kelewatan belokan yang ke kanan itu. Mestinya tak jauh dari SLB itu langsung belok ke kanan, baru deh ikuti saja jalannya sampai ke lokasi. Alhamdulillah setelah belokan itu gps berfungsi dengan semestinya. Ini berguna sekali karena tidak ada penunjuk arah sama sekali untuk menuju ke lokasi.

Jalannya ternyata searah dengan jalan yang menuju ke Kebun Binatang Bumi Kedaton. Kami mengenalinya dari bagian jalan yang teduh karena ranting pohon yang berjajar di sepanjang jalan melengkung meneduhi badan jalan.

Tak sampai 10 menit kemudian, sampailah kami di Taman Gita Persada. Tidak ada yang istimewa di gerbang masuknya. Sederhana dan cenderung seadanya. Tapi cukuplah sebagai penanda. Tidak nampak adanya petugas jaga atau semacamnya di sekitar pintu masuk.



Begitu melewati gerbang dan turun dari mobil, kami langsung disambut suara cicada (tonggeret) bersahut-sahutan. Menyenangkan. Udaranya sejuk. Suasananya nyaman dan berangin. Tidak ada tempat khusus untuk memarkirkan kendaraan roda empat di dalam lokasi. Kami parkir di tempat yang agak lapang di dekat pintu masuk. Itu pun hanya pas untuk dua mobil saja.

Baru setelah kami semua turun dari mobil, seorang bapak seumuran saya mendatangi. Ternyata petugas jaga. Tiket masuknya 10.000 rupiah per orang. Cukup terjangkau. Di lembar tiket yang diberikan oleh si bapak sih nggak ada nominalnya, tapi ya sudah lah. Lagi pula bapak petugasnya cukup informatif memberi keterangan singkat tentang taman wisata ini. 

Foto dulu mumpung Mbak Hoshi masih bagus mood nya. :)
Hikari dan Hoshi antusias. Zahra malah masih tidur digendongan bundanya.  Berdasarkan keterangan bapak penjaga, terdapat beberapa bangunan di dalam lokasi taman kupu-kupu. Ada museum kupu-kupu, tempat penangkaran, rumah pohon, bangunan untuk istirahat dan tempat bermain anak-anak. Semuanya boleh dinikmati oleh pengunjung. Museum Kupu-Kupu terletak tak jauh dari pintu masuk, tapi kami memutuskan untuk langsung ke tempat penangkaran. Ke museumnya nanti terakhir kali aja pas mau pulang.

Tempat penangkarannya berada tak jauh dari pintu masuk. Berupa bangunan sederhana tak berdinding dan tak beratap. Hanya rangka dari besi saja dikelilingi jaring-jaring halus. Ada bagian bangunan yang beratap, tapi kecil saja. Di dalamnya nampak semacam kandang-kandang sederhana.

Kami masuk ke dalam bangunan melalui pintu yang juga sederhana. Ada mbak-mbak yang kayaknya sih masih usia anak kuliahan. Dia sedang serius mencatat dan memperhatikan kepompong ketika kami masuk. Hikari Hoshi langsung mendekat ingin tahu. Dan mbaknya menyapa ramah. Ada banyak ulat dan kepompong di dalam bangunan sederhana itu. Masing-masing berada di tempat yang berbeda. Mbaknya menawarkan kepada H2 untuk memegang ulat yang ada.

Dia menjelaskan bahwa semua ulat yang akan menjadi kupu-kupu tidak ada yang menyebabkan gatal di kulit. Jika kulit kita gatal karena bersentuhan dengan ulat, dipastikan itu adalah ulat yang akan menjadi ngengat. H2 bersemangat ketika mbaknya mengambil ulat dengan hati-hati lalu meletakkannya di telapak tangan mereka. Saya sih geli. Tapi mereka kayaknya seneng banget.

Menyenangkan berada di tempat ini. Tempatnya luas dan pohon-pohonnya rindang. Kontur tanahnya tidak rata melainkan naik turun. Bahkan ada yang cukup curam hingga seperti lembah. Tapi sudah dibuatkan jalan yang menyerupai tangga, walaupun masih berupa tanah. Tapi cukup membantu jika ada pengunjung yang ingin menjelajah.

Keluar dari tempat penangkaran, rupanya Zahra sudah bangun. Kami masuk ke tempat yang dikelilingi semacam jaring halus yang cukup luas. Jaringnya tinggi mengelilingi. Di dalamnya ada banyak kupu-kupu beterbangan. H2 dan Zahra asyik berjalan dan berlarian mengejar kupu-kupu. Sekilas sepertinya terbang pelan saja, tapi tidak bisa ditangkap.

Semoga makin banyak tempat wisata sejenis ini ya di Lampung.




Selasa, 27 Oktober 2015

Hikari dan Tahfidz

Saalah satu hal yang paling menarik di Sekolah Alam Alkarim adalah anak-anak tidak diberikan pekerjaan rumah setiap hari. Pelajaran yang berkaitan dengan kemampuan akademik hanya diberikan di sekolah. Ada sih Home Chalenge, berupa tugas yang berkaitan dengan pelajaran. Tapi itu hanya diberikan satu kali setiap dua minggu. Dan tidak banyak. Hanya beberapa lembar saja, berupa soal cerita yang membuat anak bisa menikmati saat mengerjakan.

Sering kan dengar orang tua dari anak SD yang ngeluh anaknya diberi banyak PR setiap harinya.. Anak udah belajar di sekolah, cukuplah sudah. Di rumah waktunya bermain dengan saudara dan kawan-kawan. :)

Tugas rumah yang diberikan dan akan dicek setiap hari hanyalah tugas hafalan surat-surat di dalam Juz amma. Sekolah memang punya program tahfidz juz 30 dan anak yang sudah hafal nantinya akan ikut wisuda di akhir tahun ajaran.

Hafalan dimulai dari surat terakhir, An-naas. Alhamdulillah Hikari sudah punya hafalan sampai At-takatsur. Lambat memang progressnya. Tapi ternyata mengajak anak kecil untuk menghafal ternyata memang bukan hal mudah. Well, mungkin terdengar seperti alasan saja ya.. tapi memang begitu lah.

Hikari adalah anak yang sulit berkonsentrasi dengan satu hal, kecuali yang benar-benar dia sukai. Dan kami belum menemukan trik yang pas untuk membuatnya giat menghafal. Ditambah lagi saya sering sudah kehabisan energi begitu sampai di rumah. 

Apalagi di masa-masa awal Hikari sekolah, instansi saya menetapkan jam kerja hingga pukul 19.00 setiap harinya. Sampai di rumah nyaris setengah delapan. Padahal jadwal tidur Hikari dan adiknya adalah pukul delapan malam. Waktu untuk mengajaknya mengulang hafalan secara intensif hanya lah pagi hari setelah subuh sampai waktunya dia berangkat sekolah saja.

Ummiyonya? Setali tiga uang. Energinya tentu tersita untuk mengurusi Hiro yang baru lahir dan Hoshi yang entah kenapa jadi makin banyak perangai sejak adiknya lahir. 

Saya pernah coba bertanya ke Hikari tentang hafalan kawan-kawannya.
"Arta sudah sampai apa? Icha sudah hapal apa? Edgar sekarang surat apa?"
Kemudian saya mencoba memberi semangat Hikari jika hafalan kawannya sudah melebihi hafalannya. Secara teori pendidikan, mungkin ini nggak boleh ya? Tapi saya pikir, siapa tau Hikari jadi terpacu.
Trus berhasil? Enggak.

Tapi meskipun berjalan lambat, selalu bahagia tak terkira setiap kali Hikari berhasil menyelesaikan satu surat dan mendapat surat cinta dari umi gurunya untuk melanjutkan hafalan ke surat selanjutnya. 

Dan tak disangka kegiatan ini juga bermanfaat untuk kami sebagai orang tua. Kami jadi mengecek ulang hafalan dan bacaan kami. Tajwidnya, panjang pendek bacaannya juga tentang makhrojnya. Alhamdulillah, bisa ikut belajar ulang sambil mengajari anak.

Senin, 26 Oktober 2015

Hoshi anak TK Kuntum

Berbeda dengan kakaknya yang sudah minta sekolah sejak usianya belum 3 tahun, Hoshi adalah anak yang santai dan lebih senang di rumah. Sejak usianya 3 tahun, sebenarnya kami sudah mulai menawarinya untuk mulai sekolah. Karena kami berpikir siapa tau dia ingin juga sekolah seperti kakaknya. Tapi jawabannya selalu tidak. "Maunya di rumah aja kawankan Ummi", begitu selalu katanya.

Kami pun tak terlalu memaksa. Toh menurut kami usianya juga memang masih terlalu dini untuk masuk TK. Tapi kadang-kadang, saat Hikari masih sekolah di TK MENTARI Kemiling, Hoshi ikut masuk ke dalam kelas. Kebetulan sekali ibu gurunya, ibu Grace, baik dan penyayang. Dan sudah kenal juga dengan Hoshi. Sedikit banyak sudah tau lah sifat dan tabiatnya. Teman-teman di kelas Hikari juga bersikap biasa dengan kehadiran Hoshi, jadi Hoshinya juga santai.

Tapi memang cuma sekali-sekali saja sih Hoshi ikut belajar di dalam kelas. Seringnya dia minta pergi ke sekolah untuk main-main saja di halaman di saat anak-anak lain di dalam kelas.

Sampai akhirnya kami pindah kontrakan ke Kotabaru karena rumah yang kami tinggali setahun terakhir akan ditempati sendiri oleh yang punya rumah. Hikari pun pindah sekolah, walaupun sudah sayang banget dengan ibu gurunya. Tapi memang terlalu jauh jika harus pergi-pulang ke Kemiling setiap harinya.

Hikari akhirnya sekolah di TK IKAL BULOG, yang letaknya tak jauh dari kantor saya. Dan Hoshi nampaknya tidak tertarik untuk ikut sekolah di sini seperti saat dulu dia ikut kakaknya bermain di MENTARI. Ya sudahlah akhirnya dia di rumah saja dengan Ummiyo.

Sampai akhirnya tahun ajaran baru hampir tiba, dan usianya hampir lima tahun. Tentu sudah waktunya Hoshi masuk TK. Mulialah kami mencari-cari sekolah yang pas untuknya, sekalian dengan mencari sekolah Hikari yang akan masuk SD. Cerita pencarian sekolah untuk kedua anak ini lumayan drama sih. Menghabiskan cukup banyak energi dan pikiran dalam prosesnya.

Setipe dengan kakaknya, Hoshi adalah anak yang sulit untuk dibuat terkesan. Bahkan lebih pemilih lagi dibandingkan kakaknya. Tapi entah bagaimana, dia langsung suka ketika kami membawanya ke TK PERTIWI, di dekat Stadion Pahoman situ. Kemungkinan besar sih karena halaman sekolahnya yang luas dan ada banyak permainan. Kemungkinan lain adalah karena ibu gurunya ramah menyambut ketika dia dan Ummiyo datang ke sana. Tak berpikir lama, kami mendaftarkan Hoshi di PERTIWI.

Selesai satu masalah. Tapi ternyata drama belum selesai. Hikari memilih sekolah yang lokasinya di Kemiling. Ini tentu saja tidak pas dengan lokasi kontrakan yang sekarang di Kota Baru. Sempat galau sampai berhari-hari. Sampai kemudian kami (tepatnya saya) memutuskan Hikari tetap sekolah di Kemiling sesuai kemauannya dan kami akan balik lagi pindah kontrakan ke Kemiling. Kemudian Hoshi akan ikut pindah ke TK MENTARI saat kami sudah pindah kontrakan. 

Sampai saat ini saya masih merasa bersalah kepada Hoshi berkaitan dengan keputusan itu. Karena dia sepertinya sangat menyukai TK PERTIWI. Kelihatan jelas dari wajahnya. Tergambar jelas keceriannya saat bermain di halaman sekolah itu pada suatu siang yang panas.

Bulan Oktober 2015, kami resmi pindah kontrakan ke Kemiling. Tinggal di perumahan Wana Asri lagi seperti masa dua tahun ketika kami baru mutasi ke Bandar Lampung dulu. Dekat dengan sekolah Hikari di daerah Pinang Jaya. Sementara drama terus berlanjut. Hoshi yang awalnya sudah setuju sekolah di TK MENTARI mendadak mengganti kesepakatan. Nggak mau sekolah di MENTARI.

Bersyukur ketika masalah ini terpecahkan secara tak terduga. Ummiyo mengajaknya mampir ke TK KUNTUM ketika akan pergi membeli cat di Palang Besi. Dan Hoshi langsung suka. Menurut cerita Ummiyo sih, ibu gurunya memang ramah dan gigih mengajak Hoshi bicara ketika mereka pertama kali melihat-lihat itu. Dan sekolahnya juga memang enak. Lokasinya tidak langsung berada di tepi jalan besar, jadi relatif aman dan tidak akan berdebu karena kendaraan yang lalu lalang. Alhamdulillah ibu gurunya baik dan sabar. Kawan-kawannya juga baik dan tak ada yang nakal berlebihan.

Maka begitu lah. Meskipun masih tersisa rasa bersalah terkait TK PERTIWI yang tak jadi itu, tapi kami bisa bernafas lega setiap kali melihat Hoshi bersemangat pergi ke sekolah dan wajah berbinar-binarnya setiap kali menceritakan pengalamannya selama di sekolah setiap harinya.



Rabu, 21 Oktober 2015

Hikari dan Selling Day Sekolah Alam Alkarim

Salah satu kegiatan yang ditunggu-tunggu di Sekolah Alam Alkarim adalah Selling Day. Ini adaalh salah satu program di sekolah dalam rangka mengajarkan semangat wirausaha sejak dini. Dan sebenarnya bukan cuma itu sih. Ada banyak hal yang bisa dicapai dengan kegiatan ini. Salah satunya tentu saja melatih kemampuan berhitung saat bertransaksi yang membutuhkan uang kembalian. Juga kemampuan berkomunikasi yang baik pada saat anak-anak menjadi pembeli maupun sebagai penjual.

Kelas 1 Abu Bakar mendapat giliran sebagai penjual pada minggu ketiga Oktober 2015, tepatnya tanggal 19 s.d. 23 Oktober 2015. Jadi selama satu minggu itu, anak-anak dari kelas 1 Abu Bakar secara bergiliran akan berperan sebagai pedagang dan anak-anak dari kelas lain sebagai pembeli. Pembagiannya sesuai dengan pembagian giliran piket. Hikari dapat giliran di hari rabu tanggal 21 Oktober 2015 bersama 4 orang temannya yang lain.

Yang antusias tentu saja bukan cuma Hikari, tapi juga kami. Malah mungkin saya yang jauh lebih bersemangat daripada Hikari sendiri. Ummiyo dan Hikari sudah memutuskan akan membuat puding ikan koi dan donat untuk dijual.

Oiya, dalam acara Selling Day di Sekolah Alam Alkarim ini, ada aturan yang ditetapkan oleh umi gurunya. Anak yang berperan sebagai pedagang akan menjual produk berupa makanan yang dibuat sendiri atau dibuat bersama orang tua. Nilai produk yang dijual keseluruhan oleh seorang pedagang adalah Rp60.000,- Itu adalah nilai modalnya. Harga jual terserah berapa.

Kemudian, sebagai pembeli adalah anak-anak dari kelas lain dan kelas penyelenggara yang tidak mendapat giliran. Selama Selling Day dilaksanakan, anak-anak tidak dibawakan bekal makanan ringan untuk jam istirahat. Karena snack yang dimakan pada jam istirahat akan dibeli pada saat Selling Day itu. Sebagai gantinya, setiap anak dibekali uang saku senilai Rp5000,- untuk berbelanja di lapak-lapak pedagang yang ada.

Jadi Hikari dan Ummiyo sepakat untuk membuat puding ikan koi dan donat untuk dijual pada hari rabu. Cetakan ikan koi-nya pinjam dari Ummu Naufal, karena pesanan cetakan Ummiyo dari toko kue langganan di jalur dua Kemiling itu ternyata belom ada. Puding dibuat hari selasa sore. Hoshi tentu saja ikut serta. Dengan pengawasan penuh Ummiyo, Hikari dan Hoshi berhasil membuat puding ikan koi yang cantik. Enak juga. Mereka berebutan makan, padahal itu barang dagangan. Kalau donatnya sih dibuat oleh Ummiyo, karena dikerjakan malam hari ketika anak-anak sudah tertidur.

Pudingnya dijual seharga Rp1000,- saja per cup. Sedangkan donatnya Rp1500,- per buah. Murah dan enak. Kata Ummiyo, untungnya sih udah pasti nggak ada itu. Tapi melihat keceriaan anak-anak saat membuatnya itu tak ternilai harganya. :)

Lalu abiyo bantu apa? Abiyo bantu buatkan banner untuk lapaknya aja. Dari kardus bekas kemasan susu, kertas bekas kerjaan kantor dan krayon. Lumayan keren sih. Ahahaha. Dibuatnya malam, pada waktu Ummiyo membuat donat. Kemudian Hikari menambahkan detail-detailnya pada pagi harinya.

Dan alhamdulillah dagangan Hikari laris manis. <3 p="">

logo HALAL, balon kata enaaak dan bunga-bunga di bawah itu bikinan Hikari


diawasi oleh umi gurunya

lapak sebelah

Minggu, 06 September 2015

Ayo Memanah


Dari dulu saya selalu menyukai panahan. Setiap menonton film aksi dan ada tokoh yang jago memanah, perhatian saya pasti akan tertuju ke tokoh tersebut. Terlihat keren dan gagah.

Tapi baru pada akhir-akhir ini saja saya mengetahun bahwa memanah adalah termasuk olahraga yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Salllallaahu 'alaihi wassalam Ada banyak hadits dari beliau tentang kegiatan ini. Jadi bisa dibilang, kalau kita melakukan kegiatan ini berarti kita sudah menghidupkan salah satu sunnah dari Rasulullah Salllallaahu 'alaihi wassalam.

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah di atas mimbar. Tentang ayat ‘dan persiapkanlah bagi mereka al quwwah (kekuatan) yang kalian mampu‘ (QS. Al Anfal: 60) Rasulullah bersabda: ‘ketahuilah bahwa al quwwah itu adalah skill memanah (sampai 3 kali)’” (HR. Muslim 1917)

Barangsiapa yang belajar memanah lalu ia melupakannya, maka itu termasuk nikmat yang ia durhakai” (HR Ath Thabrani dalam Mu’jam Ash Shaghir no.4309, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib 1294)

Lahwun (yang bermanfaat) itu ada tiga: engkau menjinakkan kudamu, engkau menembak panahmu, engkau bermain-main dengan keluargamu” (HR. Ishaq bin Ibrahim Al Qurrab [wafat 429H] dalam Fadhail Ar Ramyi no.13 dari sahabat Abud Darda’, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ 5498 )

Jika mereka (musuh) mendekat (maksudnya jumlah mereka lebih banyak dari kalian), maka panahlah mereka terus-menerus” (HR. Bukhari 3985)

 Kelak negeri-negeri akan ditaklukkan untuk kalian, dan Allah mencukupkan itu semua atas kalian, maka janganlah salah seorang diantara kalian merasa malas untuk memainkan panahnya” (HR. Muslim 1918)

Barangsiapa yang menembak satu panah kepada musuh baik kena atau tidak kena, pahalanya setara dengan memerdekakan budak“” (HR. Ibnu Majah 2286, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah)

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. An-Nasa’i)

Busur pertama yang saya belikan untuk Hikari dan Hoshi adalah busur sederhana. Berbahan carbon fiber dengan berat tarikan kurang dari 10lbs. Merknya Junxing M115. Buatan china. Beli dari juragan archery di Bukittinggi. Dalam paketnya sudah terdiri dari busur, dua anak panah (juga berbahan carbon fiber), armguard dan fingertab.

point-nya dilindungi karet
Mereka antusias sekali saat pertama kali mencoba. Tapi rumah Kota Baru ini kecil. Lingkungannya juga tidak mendukung untuk kegitan panahan. Halamannya sempit, dan tidak ada tanah kosong yang luas juga. Akhirnya mereka pertama kali mencoba panahannya di dalam rumah saja. Ditembakkan ke arah kasur yang ditegakkan. Hihi... Anak panahnya memang tidak tajam. Di bagian point-nya ada semacam karet sebagai pengaman. Jadi ditembakkan ke kasur juga nggak akan rusak.

Lalu, sabtu kemarin, setelah kami berputar-putar mencari kontrakan baru di Kemiling, kami membawa anak-anak ke sekolah Hikari. Di depannya ada lapangan sepak bola yang luas dan sepi. Cocok untuk latihan memanah. Di pinggirnya juga pas ada pohon beringin yang rindang. Di situ lah kami berlatih.

Ternyata memang mengasyikkan. Anak-anak suka.






Beberapa lama kemudian, datanglah anak-anak SD yang sekolahnya di dekat sekolah Hikari itu. Mereka baru pulang sekolah dan menunggu orang tuanya menjemput. Jadi mereka bermain-main di sekitar lapangan itu. Saya mengajak mereka bercanda dan menawari mereka untuk mencoba busur. Ternyata mereka juga suka. :)




Minggu, 02 Agustus 2015

Selamat Datang, Anak Ketiga

Foto-fotonya aja dulu deh yaa.
Ceritanya nanti menyusul.
27 Juli 2015.
RSIA Anugerah Medika
dr. Ratna Dewi Sp.OG.




Jumat, 31 Juli 2015

Hikari Anak Sekolah Alam


Ini adalah SDIT Alam Alkarim, sekolahnya Kak Ai. Sekolah pilihannya sendiri setelah melalui berbagai drama yang lumayan bikin galau. Well, ada banyak sebab sih, tapi alasan utamanya adalah karena harus mencari titik temu antara keinginan kami dengan maunya dia.

Sebagai orang tua, pasti dong kami ingin anak-anak mendapatkan pendidikan yang sebaik-baiknya. Karena kami akan dengan sepenuh hati mempercayakan pendidikannya di sekolah, tentu inginnya Hikari bisa sekolah di tempat yang bagus dan mengajarkan nilai-nilai islami untuk bekal hidupnya nanti. Tapi tentu saja kami juga tidak bisa mengabaikan pendapat Hikari. Karena bagaimana pun dia yang akan menjalani nantinya. Dia yang akan berada di sekolah dan berinteraksi dengan guru serta teman-temannya setiap hari.Nyaman atau tidaknya dia, kami yakin adalah salah satu kunci keberhasilan pendidikan yang utama.

Berkeliling lah kami ke sekolah-sekolah di bandar Lampung ini. Sekolah-sekolah yang -menurut penelusuran kami dan berdasarkan rekomendasi dari teman-teman- merupakan sekolah yang bagus. List-nya sebenarnya tidak terlalu banyak, karena kami inginnya Hikari masuk SDIT. Atau sekolah-sekolah bernafaskan islam yang kuat kurikulum agamanya. Tapi karena lokasinya yang terpencar-pencar, jadi ya cukup memakan waktu dan tenaga juga untuk mendatanginya satu persatu.

Dan Hikari bukan anak yang mudah dibuat terkesan. Persis seperti Ummiyonya, cenderung perfeksionis dan mempertimbangkan banyak detail. Sekolah A nggak mau, sekolah B nggak suka, sekolah C ogah. Terus seperti itu, selalu saja ada yang kurang sreg di hatinya. Sampai kami kehabisan pilihan di dalam daftar. Well, ada sih yang kabarnya bagus dan belum kami lihat, tapi tidak masuk dalam daftar kami karena kemungkinan besar kami akan sangat kerepotan dengan biaya pendidikannya. *nasib pegawai negeri kelas menengah..*

Sampai kemudian (mantan) tetangga kami di Perumahan Wana Asri dulu mengusulkan Sekolah Alam Alkarim. Anak mereka juga bersekolah di situ, sudah naik kelas dua.

Ini memang sekolah baru. Lokasinya di Kelurahan Pinang Jaya, Kemiling. Masuk sekitar 1 kilometer dari Jalur dua Kemiling. Daerahnya masih asri dan udaranya masih segar karean memang dikelilingi pepohonan dan jauh dari jalan besar. Nyaris tidak ada polusi dari kendaraan bermotor di sini. Baru mulai beroperasi sejak tahun ajaran yang lalu. Jadi, kalau Hikari jadi masuk sini, Hikari adalah angkatan kedua.

Dan tak disangka, Hikari langsung suka pada pandangan pertama ketika kami bawa dia melihat lokasi sekolahnya. Pada waktu kami datang, sedang ada tes untuk anak-anak yang ingin mendapatkan beasiswa biaya pendidikan. Saat itu ada Dhea juga, tetangga kami yang lain di Wana Asri dulu, yang sudah duluan sekolah di TK Alkarim. Jadi Hikari dan Hoshi bermain-main menjelajah sekolah bersama Dhea sementara kami bertanya kepada guru dan petugas pendaftaran yang ada. Sepertinya adanya Dhea ini juga jadi salah satu hal yang membuat Hikari mantap memilih Alkarim.

Setelah menimbang dan mendengar penjelasan dari petugas bagian pendaftaran (yang sepertinya adalah guru-gurunya) dan melihat Hikari yang langsung setuju, kami akhirnya memutuskan ini lah sekolah di mana kami akan mempercayakan pendidikan Hikari selama enam tahun ke depan. Sekolah Dasar Islam terpadu dengan konsep Alam yang nampaknya cocok dengan Hikari yang cenderung lincah dan susah untuk duduk tenang dalam waktu yang lama.



Sabtu, 03 Januari 2015

Picky Eater Hoshi

Hoshi sepertinya mewarisi gen saya dalam hal makan. Pemilih sekali. Hanya mau makan sesuatu yang benar-benar sesuai dengan seleranya saja. Kalau sudah bilang nggak mau, benar-benar tak akan dimakan walau dibujuk bagaimana pun juga.

Ini tentu saja merepotkan Ummiyo yang nyaris harus selalu membujuk dulu kalau dia memasak sesuatu yang belum pernah disajikan sebelumnya. Tapi kadang tak perlu membujuk dengan kata-kata sih. Cukup makan saja di depan mereka, dan biarkan mereka melihat serta mencium aroma makanan itu. Biasanya sih Hikari yang langsung tertarik mencoba. Hoshi akan menyusul kemudian setelah kakaknya.

Kalau sedang jalan keluar, agak repot mencari tempat makan. Ya karena harus menyesuaikan dengan selera Hoshi. Mau atau tidak kira-kira kalau makan di tempat tertentu. Kecuali kalau dia sudah makan di rumah, ya nggak masalah mau makan di mana. Pernah juga makan di dua tempat yang berbeda karena tak ketemu selera. Hikari pengen makan A, Hoshi pengen makan B. Tinggal ditentukan saja siapa yang lebih lapar duluan. :D

Selain pemilih, Hoshi juga sangat-sangat repot dalam hal tata cara makan.

Dulu, jika di atas piringnya ada nasi dan sayur, dia akan makan salah satunya dulu, baru kemudian memakan yang satu lagi. Tidak dimakan bersamaan. Makan sayurnya dulu. Setelah sayurnya habis, baru makan nasinya. Atau sebaliknya. Tapi itu mulai berubah sekitar setahun belakangan. Dia sudah mulai bisa makan nasi bersamaan dengan lauk pauk atau sayurnya.

Kadang saya tak sabar melihat dia makan seperti itu, lalu berkomentar bernada protes. Kalau sudah begitu, biasanya Ummiyo langsung menimpali "ya kayak gitu lah kalau mau tau gimana abinya makan."
:D

Minggu, 21 September 2014

Hikari dan Belajar Membaca

Hikari sudah mulai lancar mengeja dan membaca.
Untuk kata-kata yang mudah seperti KADO, BELI, MADU, KELAPA, PEPAYA, dan sejenisnya sih sudah bukan masalah baginya.

Tapi dia masih kesulitan membaca kata yang diawali dengan huruf vokal yang langsung bertemu dengan konsonan. Misalnya OKTOBER, AYAM, ITIK, dan sejenisnya. Karena ketika membaca, Hikari masih selalu merangkai per dua huruf.
Jadi misalnya O-K, dibacanya apa? Dia masih sering membacanya sebagai KO. Demikian juga I-T, dibaca TI. :)

Yang juga menjadi kesulitannya adalah jika terdapat konsonan ganda. 
PRO, PRANGKO, GRAM, KRING, dan sebagainya.

Dan namanya anak baru bisa membaca, hampir semuanya ingin dibaca. Setiap ketemu tulisan selalu berusaha membaca dan bertanya. Yang repot adalah jika menemukan kata dalam bahasa inggris. Sudah menjelaskan kepadanya, baik itu bunyi hurufnya maupun cara membacanya. Maka seringkali kami membiarkan saja dia membaca huruf apa adanya. RICE, MOUSE, PAPER, SOAP. 
Dan kalau ketemu kata yang susah dibaca sih biasanya kami cuma bilang "itu bahasa inggris, Kak Ai memang belum diajarin bahasa inggris sama bu guru"


:D

Semangat ya, Kak Ai...

Jumat, 06 Juni 2014

Abi! Liat, geh!

Anak berdua itu sekarang paling hobi memaksa Abiyonya menonton adegan film yang mereka sukai. Memaksa dalam arti sebenar-benarnya memaksa ya.

Jadi misalnya mereka sedang menonton Upin Ipin dan saya sedang ada di dekat mereka melakukan sesuatu. Entah tidur-tiduran, membaca atau utak-atik gejet. Nah pas ada adegan yang menurut mereka bagus atau lucu atau apalah, mereka akan kompak memaksa saya untuk menonton juga.

"Abi, Abi! Liat, geh!"

Kalau saya tak menuruti mereka, Hikari yang tenaganya lebih kuat akan bertindak sebagai "tangan" yang memaksa dan Hoshi yang memberi perintah. Jika saya sedang membaca -misalnya, Hikari akan berusaha mengambil buku yang sedang dibaca agar saya mengalihkan perhatian ke laptop. Begitu pun jika sedang memegang gejet.

Kemudian jika saya masih tidak mau menengok ke arah laptop, biasanya mereka berdua akan kompak memiting kepala saya supaya menengok ke laptop. Ahaha.

Repotnya, jarak antara "Liat, geh!" dengan adegan yang mereka maksud itu lumayan jauh. Sering sampai hitungan menit. Misalnya adegannya di menit ke-10, dan mereka sudah sibuk memberitahu sejak menit ke-7. Ahaha. Yasudah, pasrah ajalah saya dipiting oleh mereka berdua. Pokoknya nggak mau tau. Walaupun adegan itu sudah pernah mereka tunjukkan sekalipun.

Tapi seru sih. Saya kadang menggoda mereka dengan pura-pura tak mau melihat dan membiarkan mereka melakukan pemaksaan itu. Kadang juga setelah kepala saya diarahkan ke laptop oleh mereka, saya sengaja memejamkan mata dan mereka setengah mati berusaha dengan segala cara supaya saya membuka mata.

:D


Rabu, 04 Juni 2014

Hikari dan Huruf K

Hikari sedang senang-senangnya menambahkan huruf K pada pengucapan banyak kata.

Yang kayak gini pernah -dan masih- jadi tren sih di kalangan anak twitter. Misalnya BENCI ditulis BENCIK, MATI jadi MATIK, NYANYI jadi NYANYIK dan sebagainya. Yaah mungkin anak-anak twitter itu ngerasa keren dan gaul sih kalo ngetik kayak gitu. Ahaha.

Hikari melafalkan huruf K dengan bunyi yang medok sekali. Seperti huruf K pada kata NGAPAK. Atau huruf K seperti di dalam kata DUCK, BACK, JACK dan MATIC.

Maka jadinya terdengar aneh di beberapa kata karena penempatannya sering maksa.
BELIK.
NASIK.
KUNCIK.
SUKAK.

Ahahaha.

Senin, 24 Maret 2014

Mendadak Pantai Klara

Minggu pagi. Subuh-subuh, Hikari mendadak merengek-rengek minta ke pantai. Bangun tidur langsung buka lemari pakaian dan menyodorkan pakaian renangnya ke saya yang sedang asik nonton anime. Padahal kan hari minggu biasanya jadwalnya si Ummiyo buka lapak di PKOR. Dan saya juga pengen beli jambu kristal karena stok di rumah juga tinggal beberapa buah. Hikari bertahan dengan keinginannya. Bahkan setelah dibujuk dan dirayu pergi dengan Hania dan Daffi minggu depan pun dia tetap bilang pokoknya mau ke pantai.

Tapi hari sebelumnya memang Ummiyo ada sih nyebut-nyebut soal pergi ke pantai karena katanya nggak semangat jualan minggu ini. Wallsticker yang dipesan, baru akan datang sekitar hari senin atau selasa. Yang ada di rumah tinggal stok yang lama. Makanya dia bilang tentang pergi ke pantai ke Hikari dan Hoshi.

Langit nampaknya mendung. Kalau ke pantai pun tak akan bisa bermain. Tapi pantainya kan jauh dari rumah, siapa tau keadaan langitnya beda. :D Ya sudah lah, ayok ke pantai.

Kami berangkat tak lama setelah mengemas pakaian dan peralatan untuk mandi serta membuat bekal untuk makan siang. Hikari dan Hoshi minta langsung dipakaikan baju renangnya sejak dari rumah. Bersemangat sekali. Sementara matahari masih saja muncul padahal sudah lewat dari jam tujuh pagi.

Sepanjang perjalanan jadinya harap-harap cemas. Gerimis bahkan turun agak lebat ketika kami melewati daerah Lembah Hijau. Ketika Ummiyo sekali lagi berusaha merayu Hikari untuk mengurungkan niatnya dengan alasan gerimis, Hikari justru menjelaskan proses terjadinya hujan dengan panjang lebar.
"Jadi Ummi ya... kan air hujan itu dari sungai. 
Ada juga yang dari laut.
Airnya kena matahari terus naik ke atas.
Terus jadi awan. Ngggg.... Awannya jadi hitam.
Turun hujan.
Hujannya tapi bukan di laut, Ummi. Tapi di sini.
Jadi di laut itu sekarang nggak hujan".

.................

Jadi mau ke pantai mana nih? Awalnya sih kepikiran untuk ke Pantai Mutun saja. Tapi dipikir-pikir lagi, kayaknya udah keseringan deh ke Mutun. "Atau ke Klara?" kata Ummiyo. Yak! Klara aja kalo gitu!

Dan seperti yang dibilang oleh Hikari, cuasa ternyata cerah ketika kami memasuki gerbang Kabupaten Pesawaran. Nggak panas sih. Langit sedikit berawan, tapi bukan mendung. Awan-awan tipis saja. Tapi jadinya malah adem karena mataharinya ketutupan.

Pantai Klara berada di Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran. Arahnya sama dengan kalau kita akan pergi ke Pantai Mutun yang sekarang sudah menjadi salah satu pantai yang mainstream dikunjungi di  Lampung. 

Kami pede saja berangkat padahal sama sekali belum tau tempat yang dituju. Dari yang saya baca, setelah persimpangan Pantai Mutun, ambil jalan lurus saja. Teruuus saja ikuti jalan besar sekitar setengah jam.

Setelah persimpangan Pantai Mutun, jalannya relatif bagus dan mulus. Yaah ada lubang lah di satu dua bagian. Tapi tak terlalu mengganggu. Daerahnya juga sudah ramai dengan rumah di kanan kiri jalan. Jadi tak perlu takut karena sepi. Indomaret dan Alfamart juga sudah tumbuh di daerah ini. :D

Seperti perjalanan pada umumnya, saat berangkat ke tempat yang belum pernah didatangi selalu terasa jauh dan nggak sampe-sampe. Hikari mulai cerewet bertanya "Katanya kita mau ke pantai, Mi?"  Dan Kami berdua mulai ragu. Bener nggak nih jalannya? Salah ambil belokan nggak ya? Ahahaha.

Kami berhenti di Pasar Hanura untuk bertanya dan memastikan arah kepada penduduk sekitar. Wanita muda pedagang CD bajakan di sebuah lapak mengkonfirmasi kalau kami tidak tersesat. "Ikutin aja jalan ini terus ke sana", katanya menunjuk jalan di depan lapaknya. Baiklah.

Jalan masih mulus. Tapi ada belokan yang lumayan tajam di beberapa bagian. Kontur tanahnya juga naik turun, yang entah bagaimana mengingatkan kami pada Bukittinggi. Kami berhenti untuk bertanya sekali lagi di sebuah warung pinggir jalan di sebelah pom bensin. Ibu pemilik warung bilang Pantai Klara sudah dekat, sekitar 2 kilo lagi. Hikari merengek minta beli permen.

Pemandangan di kiri jalan mulai menunjukkan suasana laut dan pantai. Pohon kelapa berjajar tinggi menjulang. Tambak-tambak dengan turbin pemutar air juga mulai nampak di sana sini. Dan tak lama kemudian, kami memasuki gerbang Pangkalan TNI-AL Teluk Ratai. Pantai Klara memang dikelola oleh TNI-AL. Dan (katanya) TNI-AL sering latihan di sini.

Gerbang Teluk Ratai
Dari gerbang ini masih harus terus lagi sekitar 5 menit. Di sepanjang jalan aja pantainya udah bagus banget. Kami berhenti sebentar di salah satu bagian pantai di tepi jalan. Hikari langsung nyebur aja ke air. Ahaha. Banyak juga anak-anak kecil yang bermain-main di pantai yang di pinggir jalan itu. 

Pantai di bahu jalan
Lanjut jalan sedikit lagi, sampailah di Panta Klara. Di situ tertulis PINTU 2.  Berbeda dengan Pantai Mutun yang letaknya jauh dari jalan raya, Pantai Klara ini lokasinya persis di tepi jalan. Jadi nampak tuh lautnya dari jalan. Juga pondok-pondok yang dibangun berjajar sepanjang pantai. Tadinya mau masuk aja gitu. Tapi trus batal karena mikir "Berarti ada PINTU 1-nya? Liat yuuk kayak apa pintu yang satu lagi.." 

Akhirnya jalan lagi sedikit dan sampailah di PINTU 1. Harga tiket masuknya 25.000/mobil. Udah nggak ada pungutan lain lagi. Tepat di tepi pantainya berdiri pondok-pondok kecil yang bisa dipakai untuk duduk (atau berbaring) dan meletakkan barang. Harga sewanya 25.000/pondok. Cukuplah untuk 2 keluarga kecil. 

Tapi kami merasa tak perlu menyewa pondok. Tinggal parkirkan mobil di belakang pondok trus buka pintu belakang mobil, beres deh. Ummiyo bisa duduk-duduk di situ sementara saya dan H2 nyemplung ke laut. Oiya. Nama Pantai Klara ini konon katanya adalah singkatan dari KELAPA RAPAT. Maksudnya banyak pohon kelapa yang tumbuhnya rapat. Dan memang sih kalau kita memperhatikan ke sekeliling, memang banyak pohon kelapa yang tumbuh berkelompok dalam jumlah banyak sekali. Di pantainya sendiri juga masih banyak pohon kelapa.

Selain pohon kelapa, di sekitar pantai itu juga banyak tumbuh pohon waru yang sudah besar-besar. Dahan dan rantingnya yang rindang membuat pantainya terasa sejuk dan teduh. Ummiyo memarkir mobilnya di bawah pohon waru. Jauh dari pohon kelapa. Oiya, tips juga ya kalau ke Pantai Klara, hati-hati dengan buah kelapa yang bisa jatuh tiba-tiba. Karena pernah kejadian ada ibu-ibu yang kejatuhan buah kelapa di sini.

Garis pantainya panjang sekali. Kayaknya bakalan capek kalau jalan kaki menyusuri pantai dari ujung yang satu ke ujung yang lainnya.

Berbeda dengan Pantai Mutun yang selalu ramai oleh hiruk pikuk pengunjung di hari libur, Pantai Klara ini cenderung lebih sepi. Suasananya jadi leih santai dan menyenangkan. Hikari dan Hoshi langsung nyebur ke air yang tenang setelah sebelumnya minta menyewa ban. Harga sewanya 5.000 untuk ban yang kecil. Mungkin masih bisa ditawar sih.

Airnya jernih dan bersih. Kelihatan ikan-ikan kecil yang berenang-renang di situ. Pantainya dangkal sampai jauh ke tengah. Bahkan Hoshi pun tak sampai tenggelam kepalanya, hanya sebatas lehernya. Dan karena letaknya di daerah teluk, airnya juga tenang. Tak ada ombak besar. Saya bisa lebih tenang melepaskan Hikari yang lagaknya seperti orang besar saja tak mau dipegangi bannya ketika sedang bermain.

Hikari. Maunya main sendiri, nggak mau dipegangi. :p
Selain berenang dan main pasir, pengunjung juga bisa menyewa perahu Kanoe seharga 15.000/jam. Untuk yang menyukai permainan yang lebih seru, bisa juga naik Banana Boat bersama teman-teman.

Dari Pantai Klara ini, kita bisa menyeberang ke Pulau Kelagian. Katanya sih pulaunya indah banget. Perairannya tenang dan jernih berwarna hijau toska. Banyak ubur-ubur kecil transparan di pantai. Dan kalau datang di pagi hari, ada banyak bintang laut yang masih tinggal di pantai. Ada perahu bermotor yang bisa disewa kalau ingin kesana. Kata bapak yang punya perahu, harga sewanya 100ribu, pergi  pulang. Tapi Ummiyo tak mau ketika saya ajak ke sana. Takut, katanya. Ya sudah, menikmati Pantai Klara saja dulu.

Hikari dan Hoshi tak puas-puas bermain. Bosan di dalam air, mereka bermain pasir. Lalu main air lagi. Main pasir lagi. Begitu terus. Sampai tak terasa hari beranjak siang. Sudah hampir jam 11 siang. Ummiyo mengajak pulang. Mungkin karena bosan tak bisa ikut main air dan tak ada teman ngobrol. :D

Tersedia tempat untuk mandi dan berganti pakaian. Tempatnya cukup bersih. Airnya juga bersih dan segar. Bukan air payau yang berasa dan berbau. Sayangnya fasilitas mandi dan bilas ini nggak gratis. Bayar 3000 sekali masuk. :D

Setelah mandi dan berganti pakaian, kami pun pulang lah. Dan ternyata memang perjalanan pulangnya selalu terasa lebih dekat. Sebentar saja sudah sampai di persimpangan Pantai Mutun. Padahal pas perginya terasa jauh sekali. Hikari sepertinya sudah puas karena keinginannya terpenuhi. :)

Rabu, 12 Maret 2014

Hikari Dan Tidur Tanpa Diaper

Hikari tiba-tiba saja tak mau lagi dipakaikan diaper sebelum tidur. Padahal dia masih ngompol di malam hari. Tapi dia berkeras, pokoknya nggak mau. Entah idenya dari mana. Mungkin dari teman-temannya di sekolah.

Ya sudah diikuti apa maunya. Tidur tak pake diaper. Saya coba memakaikan ketika dia sudah tertidur, tapi selalu terjaga dan marah. Dan seperti yang sudah diduga, kasur pun basah. Padahal sudah pipis sesaat sebelum bersiap untuk tidur. Untungnya Hikari ini tidurnya nggak pindah-pindah posisi, jadi basahnya cuma di satu bagian itu saja.

Hoshi seperti biasa selalu ingin mengikuti apa yang dilakukan oleh kakaknya. Tak mau dipakaikan diaper juga. Sekali dua kali saya turuti, dan dia ngompol juga. Ahaha. Akhirnya saya pakaikan ketika dia sudah tertidur, untung dia tidak terjaga seperti kakaknya.

Tapi Yang kena azab pertama kali tentu saja abinya. Ahaha. Harus ikut bangun membuka baju dan celananya yang basah. Mengangkatnya ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Mengganti pakaiannya kemudian melapisi kasur yang basah dengan kain tebal agar dia bisa tidur lagi.

Dan Ummiyo tentu saja ikut kebagian repotnya. Harus mencuci sprei dan kain (kadang sarung bantal juga) setiap hari. Untungnya Hikari hanya ngompol sekali saja setiap malam. Jadi setiap habis diganti pakaiannya dengan yang baru, dia akan tidur nyenyak sampai pagi.

Yang lucunya. Kadang dia tak sadar dengan kejadian di malam harinya. Jadi bangun tidur kan pakaian kering. Dengan banggalah dia berkata "Kak Ai tadi malam nggak ngompol." Ahahaha.

Setelah berhari-hari kemudian, Hikari bertahan dengan keinginannya. Kejadiannya selalu sama dan berulang. Sampai saya kemudian jadi hapal bahwa Hikari ngompol setelah lewat tengah malam. Antara pukul 2 dan pukul 3 pagi. Maka terpikirlah untuk membangunkan dia sekali sebelum jam itu. Maksudnya supaya dia pipis dan betul-betul nggak ngompol sampai pagi. Tapi apa daya. Susah sekali membangunkannya. Pernah malah antara sadar dan tidak dia marah karena saya bangunkan. Kakinya menendang-nendang ke sana kemari. 

Ya sudah lah.

Sudah lebih dua minggu berlalu sejak pertama kali Hikari mendeklarasikan tidur nggak mau pake diaper. Ada sih 2 kali yang dia benar-benar tidak ngompol. Tapi sisanya ya begitu. Melewati malam-malam dengan ritual mengganti pakaiannya dan membereskan tempat tidur yang basah.

:D

Kamis, 27 Februari 2014

Hoshi dan Melengkapi Kalimat

Hingga usianya hari ini, sepertinya Hoshi masih sering kesulitan dengan kemampuannya memilih kosa kata saat berbicara. Terutama untuk kalimat-kalimat yang panjang. Bukan tidak pandai bicara. Tapi ssepertinya dia memerlukan proses yang lebih lama untuk mengucapkan kalimat dengan cepat. 

Jadi Hoshi itu, kalau menceritakan sesuatu yang kalimatnya panjang, cenderung dengan tempo yang lambat. Ada jeda yang cukup lama antara kata yang satu dengan kata selanjutnya.

Saya kadang-kadang iseng menggoda dia jika sedang mendengarkan dia bercerita. Jika dia sedang bicara, saya sering mendahului dia mengucapkan kata selanjutnya. Kalau kata yang saya ucapkan memang sesuai dengan yang dia maksudkan, Hoshi biasanya senyum-senyum saja. Tersipu dengan manisnya seolah-olah tau sedang dikerjai.

Sekali dua kali dia protes sambil berkata "BUKAAN!" jika saya salah -yang seringnya memang sengaja saya bikin salah- melanjutkan kata yang hendak diucapkannya. Jika kesalahan itu hanya sekali saya lakukan, dia akan senyum-senyum saja, tapi lebih dari itu biasanya dia merajuk dan tak mau lagi bercerita. :D


Kamis, 13 Februari 2014

Hoshi Sayang Abi

Hoshi, walaupun memang lebih cenderung untuk dekat kepada Ummiyo, akhir-akhir ini semakin drama kalau akan berpisah dengan saya. Ada-ada saja drama yang terjadi.

Saya hampir selalu pulang ke rumah di hari jumat saat istirahat siang. Jumatan di masjid dekat rumah. Hikari sih sudah bisa diberi pengertian dan mau memahami kalau jumatan itu hanya untuk laki-laki. Jadi dia tidak minta ikut. Sementara Hoshi tidak. Dia juga sebenarnya mengerti bahwa yang sholat jumat itu hanya laki-laki, tapi dia ingin tetap ikut dengan saya ke masjid. Dan kalau saya tetap pergi sementara dia melihat, pasti terjadi drama.

Pernah sekali saya menyelinap pergi saat sepertinya dia sedang asyik main di kamar dengan kakaknya. Tapi mungkin dia mendengar bunyi pintu atau pagar dibuka atau entah bagaimana, tiba-tiba dia berlari mengejar saat saya masih belum jauh. Dan mengejarnya sambil menangis dengan disertai kalimat "Dek Hoshi mau ikut Abiii... Dek Hoshi sayang Abiiii....Dek Hoshi anak Abiiii...."

Akhirnya sekarang setiap mau pergi jumatan, harus dipastikan dulu dia memang sedang sibuk dengan sesuatu. Biasanya main game dengan kakaknya atau Ummiyo menceritakan dongeng di kamar sambil tidur-tiduran.

Pernah juga sekali, kata Ummiyo, ketika duatu hari saya tak pulangdi jam istirahat siang. Hoshi sibuk bertanya-tanya kepada Umminya kenapa saya tidak pulang. Lalu dia membuka foto-foto yang tersimpan di Hp mencari foto saya. Kemudian dicium-ciumi-lah Hp itu sambil berkata "Dek Hoshi kangen Abii.. Dek Hoshi sayang Abii.."

Ah, Dek Hoshi.
Abi pun sayang sekali.





Kamis, 02 Januari 2014

Pemandian Way Belerang Kalianda

Sudah lama sekali tak mengajak anak-anak pergi ke tempat wisata alam. Akhir-akhir ini paling kami membawa mereka jalan-jalan ke tempat permainan anak yang berada di pusat-pusat keramaian atau di pusat perbelanjaan. Seperti di PKOR Way Halim atau ke Giant Ekstra yang ada di jalan Pangeran Antasari sana.

Selain kaya dengan pantai-pantai yang indah, Lampung juga memiliki banyak objek wisata alam yang tak kalah eloknya. Salah satu yang lokasinya dekat dengan rumah mbah H2 adalah Pemandian Way Belerang yang terletak di Desa Sukamandi, Kalianda. Sebagai orang yang lahir dan besar di Lampung, saya malah belum pernah sekali pun datang ke tempat ini.

Kami pulang ke rumah Mbah H2 di Penengahan pada hari rabu tanggal 25 Desember 2013, bersama dengan Ibu Keke yang ingin liburan di rumah mertuanya. Libur nasional ditambah cuti bersama keesokan harinya membuat kami memiliki waktu yang cukup panjang untuk menikmati liburan. Hikari dan Hoshi juga memang sudah kangen ingin ketemu dengan mbahnya. Sekalian ingin mencoba baju renang baru yang dibelikan oleh Tante Nadya di kolam renang pribadi mereka.

Idenya datang mendadak saja. Tiba-tiba si Ummiyo mengajak pergi ke Pemandian Way Belerang. Meskipun belum pernah ke sana, tapi saya yakin akan mudah menemukannya karena samar-samar saya masih ingat gerbang masuk ke tempat itu. Ketika Ummiyo menceritakan rencana itu, ternyata Keke dan Rahma juga ingin ikut. Ya sudah berangkatlah kami hari kamis pukul 2 siang.

Sebenarnya ada 2 tempat yang biasa didatangi oleh orang-orang yang ingin mandi air belerang. Yang pertama tentu saja Way Belerang di Kalianda itu. Sudah dikelola dengan baik dan sudah dibuat kolam-kolam untuk berendam. Satu lagi terletak lebih jauh ke atas. Kalau tak salah pintu masuknya di Desa Kecapi. Tempat ini masih lebih alami, air yang keluar juga suhunya jauh lebih panas dan bau belerangnya lebih menyengat. 

Saya memiliki kenangan masa kecil akan tempat yang satu ini. Dulu waktu kecil pernah sakit gatal-gatal yang tak kunjung sembuh. Bapak membawa saya untuk mandi air belerang di tempat ini. Naik angkutan pedesaan dari rumah dan berhenti di Desa Kecapi dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jaman dahulu jalannya masih belum diaspal, masih jalan berbatu seadanya. Jalannya mendaki dan terasa jauuuh sekali. Tapi saya ingat saya tak merasa capek ketika itu. Lokasinya juga susah dijangkau, curam dan licin.

Baiklah, sudah cukup nostalgianya. :D Tempat yang kami tuju adalah yang ada di kota Kalianda, yang lebih dekat dan lebih mudah dijangkau. Repot kalau harus berjalan kaki mendaki sambil menggendong dua balita kan...
Dari Penengahan, kami menuju ke arah kota Kalianda. Waktu tempuhnya sekitar seperempat jam via jalan lintas sumatra. Masuk ke kota kalianda melalui persimpangan yang ada Patung Raden Intan-nya. Teruus saja sampai melewati pasar. Jalanan lancar. Jangan kuatir tersesat ya, karena ada penunjuk arah yang cukup jelas di beberapa tempat. Jika ragu, tinggal bertanya kepada sembarang orang dan mereka bisa menunjukkan arah ke Way Belerang.

Untuk ukuran ibukota kabupaten, Kota Kalianda ini relatif tenang dan sepi. Tidak terlalu ramai seperti layaknya sebuah ibukota kabupaten. Entahlah kenapa Kalianda yang dipilih sebagai ibukota Lampung Selatan. Tapi biarlah kita tinggalkan saja hal tersebut menjadi urusan para pejabat setempat.

Sekitar 5 menit kemudian kami sudah sampai di gerbang desa Sukamandi yang merupakan jalan masuk utama menuju Pemandian Way Belerang. Ini adalah gerbang yang saya ingat sebelumnya. Dari gerbang ini, tinggal ikuti saja jalanan yang mendaki menuju lokasi. Perjalanan sempat tersendat sebentar karena kipas radiator yang mendadak berbunyi keras mengganggu. Juga diwarnai dengan insiden salah mengambil belokan karena tak ada penunjuk arah di suatu persimpangan. Untung belum jauh dan kami segera bertanya kepada penduduk setempat. Tak jauh dari persimpangan tanpa penunjuk arah itu lah pintu masih Pemandian Way Belerang berada.


Tiket masuknya 10ribu rupiah, sudah termasuk asuransi. Parkir kendaraan roda empat dikenai tarif 5ribu rupiah. Bau belerang tercium menyengat hidung ketika kami memasuki areal parkir. Tempat parkirnya luas dan cukup nyaman. Banyak pohon rindang yang sepertinya usianya sudah lumayan, terlihat dari batangng utamanya uang lumayan besar. Udara di tempat parkir itu sejuk. Betah rasanya berlama-lama di situ.

Di tempat parkir itu banyak yang menjajakan belerang kering yang sudah dibentuk balok-balok kecil seukuran kotak korek api. Warnanya kuning pucat. Kata yang jualan sih, nanti digunakan sebagai sabun gosok ketika berendam di kolam. Harga awalnya 5ribu per 3 bungkus. Lalu menjadi 5ribu per 4 bungkus tanpa ditawar. Ibu Keke yang beli. Untuk menuju tempat pemandiannya, cukup berjalan melewati tempat parkir yang teduh itu, mendaki sedikit ke atas.


Tempat pemandiannya dikelilingi oleh tembok yang cukup tinggi. Di pintu masuknya ada warga setempat yang menyediakan jasa penyewaan ban. Kami menyewa untuk dipakai anak-anak. Tarif sewanya 10ribu untuk 4 buah ban, bisa dipakai sepuasnya asal tak dibawa pulang.

Kolamnya ternyata ada 2 buah. Yang satu adalah kolam besar yang cukup dalam dan diperuntukkan bagi orang dewasa. Kami melewati kolam ini ketika menuju ke kolam satu lagi yang agak sedikit lebih kecil dan diperuntukkan bagi anak-anak. Dalamnya hanya sepinggang orang dewasa. Ketika Hikari nyemplung, batas air pas di lehernya. Meskipun diperuntukkan bagi anak-anak, tapi banyak orang tua yang juga berendam di kolam kecil ini. Mereka ini seperti kami juga, datang dengan membawa anak-anak. Jadi sekalian berendam sekalian mengawasi anak yang bermain air.



Pemandian Way Belerang ini berada di kaki gunung Rajabasa. Air hangat berbau belerang ini keluar sebagai mata air yang lalu dijadikan kolam oleh pemerintah daerah setempat. Jadi sumber airnya memang berada di dalam kolam itu dan selama ini tak pernah berhenti. Airnya yang berlebih, dialirkan melalui saluran pembuangan yang berada di sekitar kolam. Selain 2 kolam itu, ada juga satu buah kolam kecil yang sepertinya mata airnya baru muncul. 


Oiya, di sekitar kolam ternyata juga ada yang menjajakan belerang kering berbentuk kotak-kotak kecil itu. Dan harganya ternyata 5ribu rupiah untuk 5 bungkus. Hihi. Jadi besok-besok kalau ke sini lagi mendingan beli ketika sudah di sekitar kolam saja.

Ada juga warga sekitar yang menawarkan kelapa muda. Mereka berjualan di sekitar tempat parkir, nanti kelapa mudanya diantarkan ke kolam. Harganya 4ribu rupiah per butir. Cukup murah. Karena di sekitar rumah kami di Kemiling saja, harga kelapa muda yang paling murah 5ribu per butir.

Saya selalu teringat sebuah pesan yang pernah saya baca entah di mana. Ketika berada di tempat wisata, sebisa mungkin belilah barang dagangan dari warga sekitar. Tak perlu banyak, belis edikit pun jadi. Hal itu agar masyarakat sekitar tidak merasa 'ditinggalkan' oleh arus pariwisata yang bergerak di sekitar mereka sementara mereka tak bisa menikmatinya. Kira-kira begitu sih. Dengan catatan asal harganya masuk akal yaa..

Matahari di langit sepertinya sedang terik-teriknya bersinar dan sepertinya kami datang di waktu yang kurang pas karena panasnya terasa sekali menyengat kepala dan kulit. Tapi anak-anak tak peduli, mereka bermain dengan gembira. Hanya Hoshi yang tak mau masuk ke dalam kolam karena menurut dia terlalu panas. Suhu air di koman memang terasa agak panas ketika baru pertama kali tersentuh. Tapi menjadi biasa ketika sudah berendam di dalamnya. Kalau datang di pagi atau malam hari, mungkin rasanya akan nikmat sekali berendam di sini.

Sarana untuk mandi, bilas dan membersihkan badan setelah berendam cukup memadai. Letaknya di dekat kolam yang besar. Airnya bersih dan sejuk, sangat berbeda dengan air di kolam yang hangat dan beraroma belerang. Dan sudah terpisah antara laki-laki dengan wanita. Ada banyak kamar-kamar kecil yang bisa digunakan untuk berganti pakaian. Tempatnya juga relatif bersih. Juga tersedia beberapa shower yang berjajar di bagian lain untuk mandi. Dan asyiknya fasilitas kamar mandi ini bisa digunakan secara gratis. Walaupun kalau dipungut bayaran pun mungkin hanya seribu atau dua ribu rupiah, tapi kalau gratis memang rasanya menyenangkan. :D

Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian, anak-anak asyik bermain di sekitar tempat parkir. Ada beberapa mainan anak yang tersedia di situ. Ada ayunan, jungkat jungkit dan perosotan juga. 

Oiya, jika ingin bermalam, di dekat pintu masuk Pemandian Way Belerang ini sekarang ada Wisma Belerang. Katanya di dalamnya juga terdapat kolam-kolam air hangat. Sepertinya seru sih menginap di situ.