Jumat, 17 September 2010

Bau Kakak, Bau Adek

Saya menyukai anak-anak dan balita sejak dulu, sejak masih muda dan belum berkeluarga. Maka tak heran jika kemudian banyak ibu-ibu yang menyukai saya. Haha. Hubungannya gimana? Yah tau sendiri lah, masa iya harus dijelaskan alasannya.

Salah satu yang jadi favorit saya tentang anak-anak adalah bau mereka yang khas. Yang baru siap mandi, wangi bedak. Yang habis lari-lari, meskipun bau keringat tapi nggak bikin mual seperti keringat orang dewasa. Yang habis berpanas-panas, bau matahari dari rambut sampai kaki. Dan yang bayi.. hmm... wangi.

Tak bosan-bosan mendekap bayi dan menikmati bau harumnya yang menyenangkan. Awalnya saya pikir wangi pada bayi yang membius itu adalah bau alami mereka. Karena dari sekian banyak bayi yang pernah saya gendong, nyaris semuanya memiliki bau yang mirip. Dan kemudian setelah memiliki bayi darah daging sendiri saya baru tau kalau bau tersebut bukan asli berasal dari sang bayi.

Awal-awal kelahiran Hikari, saya bertanya-tanya kenapa baunya tidak seperti bau bayi yang saya ingat sebelumnya. Dari istri saya baru tau kalau Hikari tidak dipakaikan sabun dan sampo bayi saat dimandikan. Juga tidak berbedak setelah mandi. Kenapa? Karena ibu saya dan ibu mertua tidak menganjurkannya. Dan saat pertama kali kami pergi ke dokter anak untuk imunisasi pun, ternyata dokter anaknya memang tidak menganjurkan bayi yang baru lahir dipakaikan macam-macam. Cukup air saja, katanya. Dan akhirnya taulah saya bahwa bau wangi dari bayi-bayi yang dulu saya sukai itu asalnya dari bedak merk A, sabun merk B, sampo merk Z dan parfum merk Q.

Tapi Hikari bayi tetap punya bau yang khas yang ternyata juga sangat saya sukai.

Sebagai orang tua jaman dahulu yang pernah tinggal di kampung di Minangkabau, mertua saya Hikari percaya adanya hantu Palasik pengganggu bayi. Dan meskipun kami tinggal di bumi melayu yang relatif jauh dari ranah minang, tetaplah adat istiadat mesti diturutkan. Penangkal yang paling ampuh adalah bawang putih bersiung tunggal. Dan ternyata ibu saya pun, meskipun dengan alasan yang tidak berhubungan dengan Palasik, menyuruh kami untuk memakaikan bawang putih bersiung tunggal kepada Hikari bayi. Tapi dalam versi ibu saya, bukan hanya bawang putih itu saja, tapi ada tambahan lagi. Saya lupa namanya, tapi kalau tak salah sejenis tanaman obat juga seperti laos, kencur, kunir itu.

Kami menurut saja. Percaya tak percaya, tak tenang pula jika tak mendengar kata-kata orang tua. Saya yakin ada manfaat dari kearifan lama seperti itu. Meskipun alasannya terkesan mistik, tapi tak apalah. Toh tak ada ruginya juga. Maka jadilah bawang putih dan tambahan dari ibu saya itu ditusuk dengan peniti lalu dipasangkan di baju atau bedong Hikari. Bau itu lah yang tercium dari tubuh Hikari, bukan bau harum bedak dan sabun bayi. Tidak terlalu lama juga Hikari memakai bawang putih itu, karena lama kelamaan bawangnya jadi layu dan mengering lalu terlepas dari penitinya. Seingat saya, hanya dua kali saya mengganti bawang itu dengan yang baru . Mungkin tak sampai usia 3 bulan Hikari berbau bawang putih. (Nanti akan dikonfirmasi oleh istri saya yang ingatannya lebih kuat.)

Tapi bukan cuma itu saja bau yang dipunyai Hikari, ada satu lagi yang lebih segar dan jelas manfaatnya. Tak ada hubungannya dengan hantu dan kepercayaan lama. Saat bayi,  Hikari sering sekali ingusan dan tersumbat hidungnya. Seringkali dia menangis di malam hari karena mungkin susah bernafas. Awalnya saya dan istri bergantian menyedot ingusnya, dengan mulut. Dan dia bisa tidur kembali setelah hidungnya bersih. Tapi semakin bertambah usianya, semakin susah kami menyedot ingusnya. Dia meronta-ronta dalam gendongan dan itu menyulitkan.

Mbahnya (ibu saya) lalu memberi obat tradisional untuk melancarkan hidungnya. Berupa beberapa buah cengkeh dan beberapa biji kemukus (rempah-rempah yang bentuknya seperti lada, warnanya hitam) yang dihancurkan dengan cara dikunyah (untuk yang satu ini saya tak pernah bisa melakukannya, hanya ibu dan istri saya) lalu ditempelkan di ubun-ubunnya. Alhamdulillah obatnya cocok dengan Hikari. Dia bisa tidur nyenyak lagi dengan ramuan itu. Dan jadilah anak bayi kami beraroma cengkeh yang segar. Bukan hanya dia yang tenang, saya pun jadi ikut menikmati aroma cengkehnya. Hingga usianya lebih dari 6 bulan, Hikari sekali-sekali masih kami tempeli cengkeh di ubun-ubunnya.

Bagaimana dengan Hoshi? Gadis kedua kami ini lebih alami lagi dibandingkan kakaknya. Sama sekali tak terkontaminasi bau lain selain bau aslinya.

Setelah Hoshi lahir, mertua saya sudah tak mengingatkan lagi untuk memakaikan bawang putih. Ibu saya pun demikian, tak sekalipun menyuruh kami. Jadi ya akhirnya 'polos' saja Hoshi kemana-mana. Beberapa orang bertanya dan kami jawab seadanya saja. Hoshi pun alhamdulillah lebih sehat dari Kakaknya. Tak pernah sakit, tak pernah ingusan. Jadi ramuan cengkeh + biji kemukus tak pernah nempel di ubun-ubunnya sampai saat ini.

Sehingga kemudian yang tercium dari tubuhnya adalah benar-benar bau alami tanpa campuran apa-apa. Bau yang aneh tapi bikin kangen. Bau yang memberi kesan berminyak tapi bikin ketagihan, kepengen cium lagi dan lagi. Ternyata bau itu asalnya dari sisa-sisa lemak yang masih menempel di beberapa bagian tubuhnya. Di lipatan-lipatan leher, di belakang telinga, di lipatan paha, di lekukan kaki dan tangannya, juga di kulit kepalanya yang rambutnya masih lebat karena belum dicukur. Tak puas-puas menikmati bau berlemak yang aneh itu. :)

Anak-anak gadisku, maafkan ya kalau saat kalian tidur pun kami tak kuasa menahan keinginan untuk selalu menciumi kalian. :)


2 komentar:

  1. iyyyaaaaahhh....
    aku juga paling suka bau bayi...paaaaaaaling sukaaaaaaaaaa.........
    sampe mama tuh pernah bilang..
    "kamu ini kayak "orang gila" punya anak"
    huehehhehe....

    aku juga suka anak kecil..dan bau baunya yang khas...:)

    BalasHapus