Senin, 22 November 2010

Mohawk dan Hair-Tattoo

Rambut ini awalnya mau dibiarin aja gondrong. Walaupun cewek-cewek yang magang di kantor bilang jelek dan nggak rapi (hahaha), dan walaupun banyak teman yang bilang nggak pantes, pokoknya kepengen rambut gondrong. Mumpung punya bigboss yang nggak rese soal rambut. Kapan lagi? Haha..

Tapi apa daya, keinginan tak pernah jadi kenyataan. Rencana tinggal rencana, karena istri tercinta jua yang mempengaruhi hasil akhirnya. Haha.

Saya kangen potong rambut yang seluruh prosesnya atau sebagian besar menggunakan gunting. Teringat dulu waktu kecil, kalo rambut udah mulai panjang, saya akan dibawa ibu ke pasar. Trus ditinggal di tukang cukur yang mangkal di bawah pohon beringin besar sementara ibu berbelanja. Tukang cukurnya bapak-bapak tua dan dia cuma pakai gunting dalam menjalankan aksinya. :D

Sebenarnya bapak juga bisa motong rambut. Cuma bapak sering kali jadi nggak sabar karena saya tak bisa tenang dan selalu menggaruk-garuk. Atau minta berhenti dulu untuk membersihkan rambut yang menempel di leher. Acara potong rambut jadinya lama dan akhirnya bapak malas motong rambut saya makanya dibawa ibu ke pasar.

Kalau tak salah, sampai SD saya selalu potong rambut di pasar dengan bapak-bapak tua yang saya panggil pakde di bawah pohon beringin besar itu. Setelah SMP, tukang potong rambut saya adalah paklik saya, adik bapak yang paling kecil. Kenapa tak ke pasar lagi, saya tak ingat alasannya.

Yang jelas, saya suka dipotong rambut memakai gunting saja. Suka dengan bunyi kres-kres-kres saat rambut terpotong.

Sementara di pekanbaru ini, semua tempat pangkas rambut yang pernah saya datangi sudah menggunakan mesin pemotong rambut. Sekali-sekali gunting juga dipakai, tapi lebih banyak memakai mesin. Saya kurang nyaman sebenarnya. Entah kenapa. Mungkin karena suara desingan mesinnya, atau sebab lain. Entahlah.

Tapi itu pun tempat pangkas rambutnya yang biasa aja. Yang tukang pangkasnya semuanya laki-laki dan tarifnya murah meriah. Yang hanya melayani pangkas rambut, kalau ada layanan lain ya paling-paling cukur kumis atau jambang. Entah kalau di salon-salon yang melayani bermacam-macam perawatan ya.. Mungkin stylist-nya kerja pake gunting ya. Saya nggak pede masuk salon terkenal kayak gitu. :(

Ceritanya jadi kemana-mana nih.. haha.

Setelah berhari-hari menebalkan telinga mendengar istri mengulang perintah untuk potong rambut, akhirnya saya turuti juga. Tapi harus istri yang motong, biar mesra. Haha. Jumat sore, setelah Hoshi terlelap, dengan senjata gunting kecil dan sisir seadanya mulailah potong rambutnya.

Lama kemudian, setelah melewati proses yang syahdu dan romantis selama hampir 2 jam, selesai lah. Modelnya mohawk. Niat hati kepengen kayak david beckham ini. Tapi rupanya selain beda ras dan beda bakat, beda wajah antara saya dengan dia pun terlalu jauh. Hasilnya sungguh tak layak untuk difoto. Mertua yang datang ke rumah sore harinya pun ikut mentertawakan. Haha.

Tapi istri bilang sih oke-oke aja. Ah. Istri memang paling baik dan paling bisa membesarkan hati saya. Padahal mungkin dalam hati pun dia tertawa selama memotong rambut saya.

Model mohawk itu akhirnya cuma bertahan hingga sabtu siang, karena saya jadi semakin nggak pede. Kepikiran reaksi teman-teman di kantor besok senen. Istri nurut aja. Dan bekerja keras lagi merapikan rambut saya. Sekali ini lebih mudah karena tinggal membuang rambut yang di bagian tengah saja. Meratakan dengan bagian yang lain. Model botak pendek cepak rata. Haha.

Tapi istri kayaknya nggak puas, karena ada sebagian kecil di sebelah kanan yang terpotong lebih pendek. Jadinya kayak berlubang gitu. Pitak istilah kerennya.

Akhirnya bikin hair tatto aja. Di bagian yang pitak itu dibuat menjadi garis melengkung melewati atas telinga hingga ke belakang. Dua garis.

Ah. Keren.
Istri memang berbakat.

Dan yang satu ini kayaknya nggak bikin malu untuk dipajang di sini.

4 komentar:

  1. Setau tta, stylish di salon2 berkelas itu hampir tidak boleh pake mesin buat pangkas lho, om...
    Mereka wajib pake gunting. Kalo ga salah gitu sih etikanya... hehehehe

    Btw, hair tattoo nya kereeenn!!!

    BalasHapus
  2. iya kan.. keren kan. Hihi.
    di kantor juga ada beberapa orang yg bilang keren.
    padahal bikinnya cuma pake gunting lho.. hebat ummi h2.

    hoo.. ternyata emang stylist-nya kerja pake gunting ya
    tapi kalo sendiri ke sana juga nggak pede
    minta temenin istri pun susah, dua balita itu tak mungkin ditinggal..
    gimana ya? :D

    BalasHapus
  3. wih ga nyangka nte ola bisa nggunting rambut yg rapi kek gitu..om wawan makin keren deh..hihihhi

    BalasHapus
  4. tapi lama banget Nad sampe rapi kayak gitu
    soalnya cuma pake gunting+sisir aja

    tapi asik lah
    semakin lama semakin maknyus
    :)

    BalasHapus