Minggu, 14 Juli 2013

Hoshi dan Tiga Tumpeng

Tak terasa ya Dek Hoshi hari ini genap 3 tahun usianya. Yaa sebenernya terasa juga sih kalo diingat-ingat, haha. Begitu banyak hal yang bisa dikenang dari hari saat pertama kali dia hadir sampai dengan hari ini. Tapi rasanya memang hanya sekedipan mata saja. Tau-tau sudah sebesar ini. Tau-tau sudah pintar melakukan banyak hal. Alangkah relatifnya waktu.

Tahun ini, tanggal 14 Juli jatuh pada hari minggu bulan ramadhan 1424 hijriyah. Pas pula dengan jadwal kami pulang ke rumah Mbah di Penengahan. Tadinya ingin mengadakan syukuran di rumah Kemiling. Mengundang teman-temannya di sekitar kontrakan yang lumayan banyak. Tapi kemudian kami berubah pikiran. Syukurannya di rumah Mbah aja ngundang saudara-saudara sambil sekalian buka puasa bersama. 

Awalnya saya ragu sih karena di kampung itu nggak pernah ada tradisi buka puasa bersama kecuali di masjid. Dari sejak saya kecil hingga punya anak kecil ini belum pernah ada undangan untuk buka puasa selain di masjid. Tapi Ummiyo meyakinkan dengan berkata "Ya makanya diadakan lah, biar pada ngumpul. Nggak cuma pas ada hajatan atau pas lebaran aja". Betul jugak.

Menunya apa? Kenangan masa kecil saya tiba-tiba muncul ke permukaan dan saya kepengen INGKUNG ayam. Ah memikirkannya saja sudah nikmat rasanya. Entah karean pengaruh puasa atau mungkin karena memang sudah bertahun-tahun saya tidak pernah makan ingkung ayam.

Saya ingat saat kecil dulu, ingkung hanya disajikan khusus pada acara kenduri. Dan kenduri jaman dulu itu seru. Berbeda dengan jaman sekarang yang serba praktis dan mudah. Pada acara kenduri masa kini, setelah selesai berdoa dan segala macamnya, tuan rumah sudah menyiapkan nasi dan lauk pauknya di dalam wadah atau kotak yang tinggal dibagikan kepada bapak-bapak yang hadir untuk dibawa pulang. Praktis. Sudah dikemas dan tinggal ditenteng.

Sementara kenduri di jaman dahulu itu repot dan nggak praktis. Tapi seru sekali. Semuanya dikerjakan dengan bergotong royong. Bahkan untuk sebuah kenduri kecil-kecilan saja, tetangga-tetangga akan berdatangan ke rumah untuk membantu. Terasa betul kekeluargaannya. Masa itu hampir semuanya masih alami. Wadah untuk menaruh makanan yang akan dibawa pulang pun terbuat dari daun kelapa. Jadi jika di rumah akan mengadakan kenduri, sejak siang hari bapak-bapak akan sibuk menganyam daun kelapa menjadi wadah nasi dan lauk pauk. Daun kelapanya bukan daun kelapa muda yang untuk bikin ketupat ya, melainkan daun kelapa yang sudah tua.

Lalu saat acara kendurinya, nasi dan lauk pauknya diletakkan di tengah-tengah ruangan dikelilingi oleh bapak-bapak yang hadir berdoa. Segala makanan itu masih diletakkan di satu wadah besar saja, belum dibagi-bagi. Biasanya sih daun pisang yang dijadikan alasnya. Dan yang selalu nampak istimewa di mata saya yang masih kecil waktu itu adalah ingkung ayamnya. Ayam utuh gundul berwarna putih kekungingan yang nampak gurih dan lezat.

Nah begitu acara berdoanya selesai, baru deh itu makanan yang numpuk dibagi-bagi. Termasuk juga ingkung ayam itu. Repot memang tapi terasa serunya. Apalagi pas bagian motong-motong ingkungnya. Kadang ada yang request mau bagian ini mau bagian itu. Seru. Dan yang tertanam dalam kenangan saya, rasa ayam yang dibikin ingkung itu paling enak daripada ayam yang dimasak dengan cara lain. Hanya satu yang bisa mengalahkannya, yaitu ayam panggang yang dibuatkan oleh Bulek saya ketika saya disunat. (Yang ini lain kali aja kita ceritakan yaa..)

Seperti itulah kenangan ayam ingkung yang saya punya. Dan tiba-tiba saja muncul ketika kami membicarakan menu untuk acara syukuran Hoshi. Mbah H2 setuju-setuju saja ketika saya sampaikan keinginan bikin ayam ingkung. Maka malam harinya Bapak saya langsung menangkap dua ekor ayam di dalam kandang lalu dipisahkan dalam kurungan untuk dipotong keesokan harinya.

Hari minggu pagi pun langsung sibuk. Mbah pergi ke pasar lebih dahulu karena H2 sedang asyik berendam di kolam. Kami lalu menyusul tak lama kemudian. Ummiyo ikut Mbah belanja di pasar sementara saya dan H2 menunggu sambil bermain di rumah Rahma. Selesai belanja, Rahma ikut pulang bersama kami.

Selain ayam ingkung, menu hidangan yang akan dibuat adalah nasi kuning (yang rencananya akan dibentuk jadi tumpeng) beserta aksesorisnya seperti urap dan lalapan, telur rebus, kering tempe+kacang tanah+teri, dan lain-lain. Tak lupa juga camilan untuk makanan pembuka. Seharian itu hanya Ummiyo dan Mbah Uti saja yang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saya hanya membantu membului ayam dan hal-hal kecil lainnya sambil mengawasi H2 dan Rahma yang heboh bermain.

Selepas asar, Makanan utama sudah siap. Setelah melalui beberapa kali percobaan, Ummiyo akhirnya berhasil membentuk nasi kuningnya menjadi tumpeng dengan menggunakan cetakan dari daun pisang. Tadinya hanya akan dijadikan satu buah tumpeng saja, tapi akhirnya dibuat tiga buah agar sesuai dengan usia Hoshi. Jadilah dibuat satu tumpeng besar dan dua buah lagi sebagai pendamping berukuran lebih kecil. Ternyata jadi cantik setelah ayam dan lain-lainnya disusun di sekitarnya. Yaah untuk ukuran Ummiyo yang baru pertama kali bikin, ini sudah lumayan keren lah.
 
Yang diundang ternyata tak semuanya bisa hadir karena satu dan lain hal. Tapi tak apalah. Yang ada pun sudah cukup bikin suasana ramai dan hangat. Terutama H2 yang heboh bermain dengan saudara-saudaranya yang lain. Noval, Rendi, Rio dan Rahma. Cuma 6 anak tapi suaranya nggak kalah dengan sekumpulan anak-anak di taman bermain. :D

Maghrib pun tiba, waktunya berbuka puasa. Kurma, Estimun, Tahu isi dan beberapa camilan lainnya pun disantap dengan lahap. Kemudian break untuk sholat maghrib sementara anak-anak lanjut bermain tak kenal lelah. Suara paling keras tetap Hikari yang sudah akrab dengan saudara-saudaranya.

Acara makan tumpengnya pun dimulai selepas sholat maghrib. Mbah Kung yang memimpin doa. Bersyukur atas nikmat Allah yang tak terhingga banyaknya untuk kami semua. Secara khusus bersyukur untuk Hoshi yang hari ini genap berusia tiga tahun.

Acara makan tumpengnya pun dimulai selepas sholat maghrib. Mbah Kung yang memimpin doa. Bersyukur atas nikmat Allah yang tak terhingga banyaknya untuk kami semua. Secara khusus bersyukur untuk Hoshi yang hari ini genap berusia tiga tahun.

Nasi kuningnya gurih dan lezat. Dan ayamnya juga nikmat. Puas sekali saat mengoyak besar-besar daging ayam ingkung itu. Semuanya makan dengan lahap, kecuali Hikari dan Hoshi yang memang sejak sore tadi sudah makan nasi kuningnya saat masih mengepul-ngepul baru masak. Suasananya juga hangat, semuanya akrab becanda saling menggoda sambil menikmati hidangan.

Terima kasih ya Allah, Engkau jadikan anak-anak kami sehat, pintar dan shalihah.


4 komentar:

  1. sama juga kebiasaan di keluargaku, kalo syukuran...palingan bikin tumpengan, dan selesai doa, makanan dibagi kepada tetangga....
    selamat lahir buat Hoshi ya...semoga sehat bahagia selalu...salam :-)

    BalasHapus
  2. Terima kasih pak Hariyanto
    aamiin
    :)

    BalasHapus
  3. mumpung masih suasana lebaran di bulan syawal, saya datang mengucapkan mohon maaf lahir batin, keep happy blogging always...salam kemerdekaan :-)

    BalasHapus
  4. maaf lambat membalas.
    mohon maaf lahir dan batin juga ya Pak.
    :)

    BalasHapus